BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Dalam sejarah pemikiran ekonomi islam, tentunya tidak lepas dari
beberapa orang pelopor pemikir dari golngan umat muslim. Sebetulnya ekonomi
sendiri sudah ada jauh sebelum islam datang, tetapi dalam perekonomian yang
berbasis islam ini adalah ajaran yang di ajarkan oleh Nabi Muhammad SAW yang
berdasarkan al-qur’an dan hadish. Setelah wafatnya Nabi Muhammad SAW, pemikiran
ekonomi ini tidak begitu saja hilang, akan tetapi pemikiran ini terus
berkembang di kalangan para sahabat. Diantaranya para sahabat yang
mengembangkan sisitem perekonomian islam ialah abu yusuf (113-182 H/731-798 M),
al-syaibani (132-189 H/750-804 M), abu ubaid (150-224 H), al-mawardi (364-450
H/974-1058 M), nizham al-mulk (W. 485), dll. Tetapi untuk makalah ini, akan
lebih di fokuskan kepada nizam al-mulk. Ingin tau penjelasan selanjutnya?, mari
simak uraian makalah di bawah ini.
B. Rumusan Masalah
1.
Apa
biografi dari Nizam al-Mulk?
2.
Bagaimana
kondisi sosial, ekonomi, dan politik pada masa Nizam al-Mulk?
3.
Apakah
pemikiran ekonomi Nizam al-Mulk?
C. Tujuan
1.
Mengetahui
kehidupan Nizam al-Mulk.
2.
Mengetahui
kondisi sosial, ekonomi, dan politik pada masa Nizam al-mulk.
3.
Mengetahui
pemikiran ekonomi Nizam al-Mulk.
4.
Menyelesaikan
tugas makalah sejarah pemikiran ekonomi islam.
BAB
II
PEMBAHASAN
A.
![]() |
Biografi Dari Nizam Al-Mulk
Al-Mulk
Lahir di sebuah desa kecil bernama Radkan, dekat Tus , di
Persia (Iran modern) , dan pada awalnya melayani Ghaznavid sultan, Nizam
al-Mulk menjadi administrator kepala seluruh Khorasan provinsi dengan 1.059 CE
Dari 1063, ia menjabat sebagai wazir
Saljuk dan tetap dalam posisi sepanjang pemerintahan Alp Arslan (1.063-1.072)
dan Malik Shah I (1072-1092).He left a great impact on organization of the Seljuq
governmental bodies and hence the title Nizam al-Mulk which translates as
"the order of state". Dia meninggalkan dampak yang besar pada organisasi badan pemerintah Saljuk
dan karenanya Nizam al-Mulk judul yang diterjemahkan sebagai "urutan
negara". He was pivotal figure who bridged
the political gap between both the Abbasids and the Seljuqs against their
various rivals such as the and the Buyids . Dia adalah sosok penting yang menjembatani kesenjangan
politik antara kedua Abbasiyah dan Saljuk terhadap saingan mereka berbagai
seperti Fatimiyah dan Buwaihi.
Selain
dari pengaruh luar biasa sebagai perdana menteri dengan kewenangan penuh, ia
juga terkenal karena sistematis mendirikan sejumlah sekolah dari pendidikan
tinggi di beberapa kota, yang terkenal Nizhamiyah sekolah, yang dinamai menurut
namanya. Dalam banyak aspek, sekolah-sekolah ini ternyata menjadi pendahulu dan
model universitas yang didirikan di Eropa.
Nizam
al-Mulk juga banyak dikenal karena risalah tebal nya di kerajaan berjudul
Siyasatnama (Kitab Pemerintahan ). Ia juga menulis sebuah buku berjudul
al-Dastur Wuzarā, ditulis untuk anaknya Abolfath Fakhr-ol-Malek, yang tidak
berbeda dengan buku terkenal Qabus NAMA .
Nizam
al-Mulk dibunuh dalam perjalanan dari Isfahan ke Baghdad pada 10 Ramadhan 485
AH (14 Oktober 1092 CE) Literatur utama mengatakan dia ditikam oleh belati dari
anggota Assassins ( Hashshashin ) dikirim oleh terkenal Hassan-i- Sabbah dekat
Nahavand , Persia , saat ia sedang dibawa nya sampah . Pembunuh itu mendekatinya
menyamar sebagai darwis.
Akun
ini sangat menarik mengingat cerita mungkin apokrif diceritakan oleh Jorge Luis
Borges . Dalam cerita ini pakta terbentuk antara Nizam al-Mulk muda (pada waktu
itu dikenal sebagai Abdul Khassem) dan dua temannya, Omar Khayyam dan Hassan-i
Sabbah- . Kesepakatan mereka menyatakan bahwa jika seseorang harus naik ke
menonjol, bahwa mereka akan membantu dua lainnya untuk melakukan hal yang sama.
Nizam al-Mulk adalah orang pertama yang melakukan hal ini ketika ia ditunjuk wazir
ke sultan Alp Arslan . Untuk memenuhi perjanjian tersebut ia menawarkan kedua
posisi teman dari peringkat dalam pengadilan. Omar menolak tawaran itu, meminta
bukan untuk diberikan sarana untuk melanjutkan studinya tanpa batas. Nizam ini
lakukan, serta membangun sebuah observatorium dia. Meskipun Hassan, seperti
Omar, memutuskan untuk menerima janji yang ditawarkan kepadanya, ia terpaksa
melarikan diri setelah merencanakan untuk membuang Nizam sebagai wazir.
Selanjutnya, Hassan tiba dan menaklukkan benteng Alamut , dari mana ia
mendirikan Assassins.
Laporan
lain mengatakan ia dibunuh secara rahasia oleh Malik Shah I dalam perebutan
kekuasaan internal. Akibatnya, pembunuhan itu dibalaskan oleh akademisi setia
wazir itu dari Nizhamiyah , dengan membunuh Sultan. Akun tersebut diperdebatkan
dan tetap menjadi kontroversi karena sejarah panjang persahabatan antara Malik
Shah I dan Nizam.
Laporan
lain mengatakan bahwa ia dibunuh dengan Malik Shah I di tahun yang sama,
setelah perdebatan antara Sunni dan Syiah ulama yang disiapkan oleh dia dengan
perintah Malik Shah I dan yang mengakibatkan mengkonversi dia dan raja untuk
Shi tersebut 'ideologi. Kisah ini dilaporkan oleh putra-hukum-Nizam al-Mulk,
Muqatil bin Atiyyah yang menghadiri perdebatan.[1]
B. Kondisi Sosial, Ekonomi, Dan Politik Pada Masa Nizam
Al-Mulk
·
Sosial
Di saat terjadi perpindahan kekuasaan dari Umayyah ke
Abbasiyah, wilayah geografis dunia islam membentang dari timur ke barat,
meliputi Mesir, Sudan, Syam, Jazirah Arab, Iraq, Parsi sampai ke Cina. Kondisi ini mengantarkan
terjadinya interaksi intensif penduduk setiap daerah dengan daerah lainnya.
Interaksi ini memungkinkan proses asimilasi budaya dan peradaban setiap daerah.
Nyanyian dan musik menjadi tren dan style kehidupan bangsawan dan pemuka istana
era Abbasiyah. Anak-anak khalifah diberikan les khusus supaya pintar dan cakap
dalam mendendangkan suara mereka. Seniman-seniman terkenal bermunculan pada
masa ini diantaranya Ibrahim bin Mahdi, Ibrahim al Mosuly dan anaknya Ishaq.
Lingkungan istana berubah dan dipengaruhi nuansa Borjuis mulai dari pakaian,
makanan, dan hadirnya pelayan-pelayan wanita. Dalam sebuah riwayat disebutkan
Harun ar-Rasyid memiliki seribu pelayan wanita di istananya dengan berbagai
keahlian.
Para penguasa Abbasiyah membentuk masyarakat
berdasarkan rasa persamaan. Pendekatan terhadap kaum Malawi dilakukan antara
lain dengan mengadopsi sistim Administrasi dari tradisi setempat (Persia)
mengambil beberapa pegawai dan Menteri dari bangsa Persia dan meletakan ibu
kota kerajaannya, Baghdad di wilayah yang dikelilingi oleh bangsa dan agama
yang berlainan seperti bangsa Aria dan Sumit dan agama Islam, Kristen, dan
Majusi.
Pembagian kelas dalam masyarakat Daulat Abbasiyah
tidak lagi berdasarkan ras atau kesukaan, melainkan berdasarkan jabatan seseorang
seperti menurut jarzid Zaidan, masyarakat Abbasiyah terbagi dalam 2 kelompok
besar, kelas khusus dan kelas umum. Kelas khusus terdiri dari khalifah,
keluarga khalifah (Bani Hasyim) para pembesar negara (Menteri, gubernur dan
panglima). Kaum bangsawan non Bani Hasyim (Quraisy) pada umumnya. Dan pra
petugas khusus, tentara dan pembantu Istana. Sedangkan kelas umum terdiri dari
para seniman, ulama, pujangga fukoha, saudagar dan penguasa buruh dan petani.
Sistem Sosial Pada
masa ini, sistem sosial adalah sambungan dari masa sebelumnya (Masa Dinasti
Umayah). Akan tetapi, pada masa ini terjadi beberapa perubahan yang sangat
mencolok, yaitu :
a. Tampilnya kelompok mawali dalam pemerintahan serta mendapatkan
tempat yang sama dalam kedudukan sosial.
b. Kerajaan Islam Daulah Abbasiyah terdiri dari beberapa bangsa yang
berbeda-beda (bangsa Mesir, Syam, Jazirah Arab dll.).
c. Perkawinan campur yang melahirkan darah campuran.
d. Terjadinya pertukaran pendapat, sehingga muncul kebudayaan baru
.
·
Ekonomi
Nizam al-mulk
menjadi perdana menteri selama tiga puluh tahun pada masa Dinasti Saljuq,
memiliki pengetahuan tangan pertama semua urusan administrasi terutama yang
berhubungan dengan tanah. diskusi-Nya di tanah kebijakan umum pada waktu itu
dan reformasi ia menyarankan telah diringkas oleh Hasan dan Nadwi. Hasan
catatan bahwa hubungan tanah dijelaskan dalam al-Tusi siyasat Nameh disajikan
gambar yang sama sekali
berbeda dari yang feodalisme Eropa. Menurut
al-Tusi, itu adalah penguasa dan bukan pemilik yang memiliki tanah. Hasan tepat
mengkritik pandangan ini karena bertentangan dengan prinsip Islam, bahwa itu
adalah negara dan bukan kepala negara yang tanah milik. Tusi tampaknya
rasionalisasi praktek feodal kuno di Persia, mengenai hak-hak sultan. Dia
merekomendasikan penarikan biaya tanah dari tuan tanah jika ia gagal memenuhi
kewajibannya. Tuan tanah itu, dalam pandangannya, pemungut cukai saja. Mereka
bahkan tidak memiliki hak untuk memperbaiki kuantum pajak, yang merupakan hak
penguasa. Dia ingin mengurangi kekuasaan dan hak-hak para pemilik tanah dan
membuat semua penguasa kuat.[2]
·
Politik
Pada zaman Nizam Al-Mulk tepatnya pada periode ke-4 masa
Bani Abbasiyah ditandai dengan kekuasaan Bani Seljuk. Kehadiran Bani Seljuk ini
adalah atas undangan Khalifah untuk melumpuhkan kekuatan Bani Buwaih di
Baghdad. Keadaan Khalifah memang membaik, paling tidak karena kewibawaannya
dalam bidang agama kembali setelah beberapa lama dikuasai oleh orang - orang
Syi’ah. Sebagaimana pada periode sebelumnya, ilmu pengetahuan juga berkembang
pada periode ini. Nizam al-Mulk, perdana menteri pada masa Alp Arselan dan
Malikhsyah, mendirikan Madrasah Nizamiyah (1067 M) dan madrasah Hanafiyah di
Baghdad. Cabang - cabang Madrasah Nizamiyah didirikan hampir di setiap kota di
Irak dan Khurasan. Madrasah ini menjadi model bagi perguruan tinggi dikemudian
hari. Dari madrasah ini telah lahir banyak cendekiawan dalam berbagai disiplin
ilmu. Di antara para cendekiawan Islam yang dilahirkan dan berkembang pada
periode ini adalah al-Zamakhsari, penulis dalam bidang Tafsir dan Ushul al-Din
(teologi), Al-Qusyairi dalam bidang tafsir, al-Ghazali dalam bidang ilmu kalam
dan tasawwuf, dan Umar Khayyam dalam bidang ilmu perbintangan.
Dalam bidang
politik, pusat kekuasaan juga tidak terletak di kota Baghdad. Mereka membagi
wilayah kekuasaan menjadi beberapa propinsi dengan seorang Gubernur untuk
mengepalai masing-masing propinsi tersebut. Pada masa pusat kekuasaan melemah,
masing-masing propinsi tersebut memerdekakan diri. Periode kelima (1199-1258 M).
C. Pemikiran Ekonomi Nizam Al-Mulk
Nizam Al-Mulk menyadari sepenuhnya
mengenai 3 arah faktor-faktor kemakmuran, produktivitas dan efisiensi.
Mengamankan kesejahteraan dapat meningkatkan lebih besar produktivitas yang
diharapkan dan efisiensi. Ia mendemonstrasikan melalui kejadian terkait di
bawah ini:
Bahwa pada saat persoalan (affairs) Ray
telah mengkhawatirkan Nizam al-Mulk, ia di beritahukan oleh spies bahwa
Quthlumus telah meninggalkan Fortress dari Kurd mulai Plundering negeri dan
negeri Ray harus di serang, Alp Arslan juga mulai menuju Nishapur dan ia dengan
tentaranya mencapai Damghan. Dengan rasa persaudaraan< Alp Arslan
mengirimkan sebuah pesan Quthlumus memintanya untuk kembali. Namun Quthlumush
memenuhi tidak menaruh perhatian dan mulai melakukan gangguan ke wilayah sekitar
Ray. Quutlumush memenuhi lembaga al-Mith dengan air agar kiriman ke Ray tidak
sampai. Situasi ini mengkhawatirkan Alp Arslan. Nizam al Mulk berkata kepadanya
“ sama sekali jangan khawatir, saya telah merekrut serdadu yang tembakannya
tidak pernah mleset dar target. Saya telah mengamankan kesetiaan dari kitab
suci Al Qur’an, ulama , dan sufi dari khurasan, kepadanya telah saya perlakukan
dengan kasih sayang. Mereka semua datang mendoakan untuk kemenangan Sultan.
Tentara anda ini adalah pendukung andayang paling baik”.
Setelah mengatakan ini, ia meletakkan
senjata dan memberikan uang kepada bala tentara. Sultan membawa membagikan uang
kepada bala tentara. Sultan membawa kudanya ke air dan menyebrangi dengan
selamat beserta angkatan daratnya. Quthlumush terbunuh. Ketika Sultan kembali
ke Ray pada tahun 456 H/ 1063 M, Admid al-Mulk menyambutnya dengan kehormatan
militer penuh. Atas kemenangannya ini Alp Aslan sangat berterima kasih kepada
Nizam al-Mulk.[3]
memastikan bahwa kebutuhan pokok
masyarakat dipenuhi secukupnya. Negara harus bisa menjamin ketersediaan pasokan
yang cukup selama terjadi serangan hama atau gagal panen.
Nizam Al-Mulk menegaskan bahwa persamaan
hak dalam kesempatan melakukan kegiatan ekonomi adalah persyaratan awal untuk
mencapai persamaan sosial. Upaya ekonomi untuk mencapai tujuan ini mencakup
manajemen zakat yang efektif, bangunan pondok dan rumah untuk rakyat miskin,
dan tersedianya lapangan kerja bagi rakyat sesuai kapasitas dan imbalannya.
Tentang pajak, Nizam Al-Mulk tidak
menyangkal bahwa sistem pajak yang baik menjadi basis keuangan yang sehat.
Walaupun demikian, ia percaya bahwa keuangan yang sehat bukanlah segala-galanya
untuk menghindari kesulitan nasional. Terkait dengan persoalan pajak tanah,
Nizam Al-Mulk merekomendasikan pembatalan dari pembebanan (charge) oleh tuan
tanah terhadap petani yang tidak dapat memenuhi kewajibannya membayar pajak.
Dalam pandangannya, tuan tanah hanyalah sebatas pengumpul pajak, bahkan mereka
tidak mempunyai hak untuk menetapkan jumlah pajak karena hal tersebut merupakan
hak mutlak pemerintah. Dalam hal ini, Nizam Al-Mulk ingin mengurangi kekuasaan
dan hak mutlak para tuan tanah, dan menjadikan pemerintah menjadi lebih
berkuasa.
Madrasah
Nidzamiyah yang didirikan oleh Nizam Al Mulk di Bghdad dan madrasah madrasah
lainnya dibawah kekuasaan bani Saljuk sudah mempunyai sistem menejemen
yang cukup baik. Hal tersebut di atas dilatarbelakangi adanya campur
tangan Negara dalam masalah pendidikan pada waktu itu, sehingga masalah
pendidikan Islam mulai terencana dengan baik dari mulai tujuan, kurikulum,
perekrutan tenaga pendidikan sampai pada pendanaan dan sarana prasarana.
Seperti yang diungkapkan Abd.Al Madjid al-Futuh’ madrasah Nidzamiyyah merupakan
lembaga pendidikan resmi pemerintah terlibat dalam menetapkan tujuan-tujuannya,
menggariskan kurikulum, memilih guru dan memeberi dana yang teratur kepada
madrasah. Yang menarik dari inovasi pendidikan Nizam Al-Mulk adalah dalam
menangani menejemen keuangan madrasah yaitu dengan mengoptimalkan dana wakaf untuk pembiayaan pendidikan. Hal ini dijadikan
alternative solusi untuk menciptakan pendidikan masal yang murah bagi rakyat
dengan fasilitas yang cukup memadai.
Dengan
adanya dana yang memadai, para syaikh (kalau sekarang professor) dan mudarris
dapat digaji secara professional atas tugas-tugas pengajaran yang dilakukannya.
Dari
uraian di atas maka masalah-masalah menejemen pada pendidikan Nizamiyah sudah
cukup tertata dengan baik, artinya bahwa segala sesuatau yang akan dilakukan
sudah terencana, baik dalam masalah sarana dan prasarana, tujuan,
kurikulum, perekrutan guru sampai pada masalah pendanaan lembaga madrasah
Nidzamiyah.
BAB III
KESIMPULAN
1. Al-Mulk
Lahir di sebuah desa kecil bernama Radkan, dekat Tus , di Persia (Iran modern).
Dari 1063, ia menjabat sebagai wazir Saljuk dan tetap dalam posisi sepanjang
pemerintahan Alp Arslan (1.063-1.072) dan Malik Shah I (1072-1092). Nizam
al-Mulk juga banyak dikenal karena risalah tebal nya di kerajaan berjudul
Siyasatnama (Kitab Pemerintahan ). Ia juga menulis sebuah buku berjudul
al-Dastur Wuzarā, ditulis untuk anaknya Abolfath Fakhr-ol-Malek.
2. Kondisi
sosial, ekonomi, dan politik pada masa nizam al-mulk
·
Kondisi sosial :
Sistem Sosial Pada masa ini, sistem sosial adalah sambungan dari masa
sebelumnya (Masa Dinasti Umayah). Akan tetapi, pada masa ini terjadi beberapa
perubahan yang sangat mencolok, yaitu :
a. Tampilnya
kelompok mawali dalam pemerintahan serta mendapatkan tempat yang sama dalam
kedudukan sosial.
b. Kerajaan
Islam Daulah Abbasiyah terdiri dari beberapa bangsa yang berbeda-beda (bangsa
Mesir, Syam, Jazirah Arab dll.).
c. Perkawinan
campur yang melahirkan darah campuran.
d. Terjadinya
pertukaran pendapat, sehingga muncul kebudayaan baru.
·
Kondisi ekonomi
: Nizam al-mulk menjadi perdana menteri selama tiga puluh tahun pada masa
Dinasti Saljuq, memiliki pengetahuan tangan pertama semua urusan administrasi
terutama yang berhubungan dengan tanah. Dia ingin mengurangi
kekuasaan dan hak-hak para pemilik tanah dan membuat semua penguasa kuat.
·
Kondisi politik
: Dalam bidang politik, pusat kekuasaan juga tidak terletak di kota Baghdad.
Mereka membagi wilayah kekuasaan menjadi beberapa propinsi dengan seorang
Gubernur untuk mengepalai masing-masing propinsi tersebut. Pada masa pusat
kekuasaan melemah, masing-masing propinsi tersebut memerdekakan diri.
3. Pemikiran
Ekonomi Nizam Al-Mulk menyadari sepenuhnya mengenai 3 arah faktor-faktor
kemakmuran, produktivitas dan efisiensi. Mengamankan kesejahteraan dapat
meningkatkan lebih besar produktivitas yang diharapkan dan efisiensi.
DAFTAR
PUSTAKA
3. Prof. Dr. Azyumardi Azra. MA, sejarah pemikiran ekonomi islam,
hal 200

Tidak ada komentar:
Posting Komentar