Kamis, 03 Oktober 2013

sejarah pemikiran ekonomi islam nizam al-mulk

BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang
Dalam sejarah pemikiran ekonomi islam, tentunya tidak lepas dari beberapa orang pelopor pemikir dari golngan umat muslim. Sebetulnya ekonomi sendiri sudah ada jauh sebelum islam datang, tetapi dalam perekonomian yang berbasis islam ini adalah ajaran yang di ajarkan oleh Nabi Muhammad SAW yang berdasarkan al-qur’an dan hadish. Setelah wafatnya Nabi Muhammad SAW, pemikiran ekonomi ini tidak begitu saja hilang, akan tetapi pemikiran ini terus berkembang di kalangan para sahabat. Diantaranya para sahabat yang mengembangkan sisitem perekonomian islam ialah abu yusuf (113-182 H/731-798 M), al-syaibani (132-189 H/750-804 M), abu ubaid (150-224 H), al-mawardi (364-450 H/974-1058 M), nizham al-mulk (W. 485), dll. Tetapi untuk makalah ini, akan lebih di fokuskan kepada nizam al-mulk. Ingin tau penjelasan selanjutnya?, mari simak uraian makalah di bawah ini.

B.     Rumusan Masalah
1.      Apa biografi dari Nizam al-Mulk?
2.      Bagaimana kondisi sosial, ekonomi, dan politik pada masa Nizam al-Mulk?
3.      Apakah pemikiran ekonomi Nizam al-Mulk?

C.     Tujuan
1.      Mengetahui kehidupan Nizam al-Mulk.
2.      Mengetahui kondisi sosial, ekonomi, dan politik pada masa Nizam al-mulk.
3.      Mengetahui pemikiran ekonomi Nizam al-Mulk.
4.      Menyelesaikan tugas makalah sejarah pemikiran ekonomi islam.
BAB II
PEMBAHASAN

A.   

Biografi Dari Nizam Al-Mulk
Nizam al-Mulk monumen di Masyhad

Al-Mulk Lahir di sebuah desa kecil bernama Radkan, dekat Tus , di Persia (Iran modern) , dan pada awalnya melayani Ghaznavid sultan, Nizam al-Mulk menjadi administrator kepala seluruh Khorasan provinsi dengan 1.059 CE
Dari 1063, ia menjabat sebagai wazir Saljuk dan tetap dalam posisi sepanjang pemerintahan Alp Arslan (1.063-1.072) dan Malik Shah I (1072-1092).He left a great impact on organization of the Seljuq governmental bodies and hence the title Nizam al-Mulk which translates as "the order of state". Dia meninggalkan dampak yang besar pada organisasi badan pemerintah Saljuk dan karenanya Nizam al-Mulk judul yang diterjemahkan sebagai "urutan negara". He was pivotal figure who bridged the political gap between both the Abbasids and the Seljuqs against their various rivals such as the Fatimids and the Buyids . Dia adalah sosok penting yang menjembatani kesenjangan politik antara kedua Abbasiyah dan Saljuk terhadap saingan mereka berbagai seperti Fatimiyah dan Buwaihi.
Selain dari pengaruh luar biasa sebagai perdana menteri dengan kewenangan penuh, ia juga terkenal karena sistematis mendirikan sejumlah sekolah dari pendidikan tinggi di beberapa kota, yang terkenal Nizhamiyah sekolah, yang dinamai menurut namanya. Dalam banyak aspek, sekolah-sekolah ini ternyata menjadi pendahulu dan model universitas yang didirikan di Eropa.
Nizam al-Mulk juga banyak dikenal karena risalah tebal nya di kerajaan berjudul Siyasatnama (Kitab Pemerintahan ). Ia juga menulis sebuah buku berjudul al-Dastur Wuzarā, ditulis untuk anaknya Abolfath Fakhr-ol-Malek, yang tidak berbeda dengan buku terkenal Qabus NAMA .
Nizam al-Mulk dibunuh dalam perjalanan dari Isfahan ke Baghdad pada 10 Ramadhan 485 AH (14 Oktober 1092 CE) Literatur utama mengatakan dia ditikam oleh belati dari anggota Assassins ( Hashshashin ) dikirim oleh terkenal Hassan-i- Sabbah dekat Nahavand , Persia , saat ia sedang dibawa nya sampah . Pembunuh itu mendekatinya menyamar sebagai darwis.
Akun ini sangat menarik mengingat cerita mungkin apokrif diceritakan oleh Jorge Luis Borges . Dalam cerita ini pakta terbentuk antara Nizam al-Mulk muda (pada waktu itu dikenal sebagai Abdul Khassem) dan dua temannya, Omar Khayyam dan Hassan-i Sabbah- . Kesepakatan mereka menyatakan bahwa jika seseorang harus naik ke menonjol, bahwa mereka akan membantu dua lainnya untuk melakukan hal yang sama. Nizam al-Mulk adalah orang pertama yang melakukan hal ini ketika ia ditunjuk wazir ke sultan Alp Arslan . Untuk memenuhi perjanjian tersebut ia menawarkan kedua posisi teman dari peringkat dalam pengadilan. Omar menolak tawaran itu, meminta bukan untuk diberikan sarana untuk melanjutkan studinya tanpa batas. Nizam ini lakukan, serta membangun sebuah observatorium dia. Meskipun Hassan, seperti Omar, memutuskan untuk menerima janji yang ditawarkan kepadanya, ia terpaksa melarikan diri setelah merencanakan untuk membuang Nizam sebagai wazir. Selanjutnya, Hassan tiba dan menaklukkan benteng Alamut , dari mana ia mendirikan Assassins.
Laporan lain mengatakan ia dibunuh secara rahasia oleh Malik Shah I dalam perebutan kekuasaan internal. Akibatnya, pembunuhan itu dibalaskan oleh akademisi setia wazir itu dari Nizhamiyah , dengan membunuh Sultan. Akun tersebut diperdebatkan dan tetap menjadi kontroversi karena sejarah panjang persahabatan antara Malik Shah I dan Nizam.
Laporan lain mengatakan bahwa ia dibunuh dengan Malik Shah I di tahun yang sama, setelah perdebatan antara Sunni dan Syiah ulama yang disiapkan oleh dia dengan perintah Malik Shah I dan yang mengakibatkan mengkonversi dia dan raja untuk Shi tersebut 'ideologi. Kisah ini dilaporkan oleh putra-hukum-Nizam al-Mulk, Muqatil bin Atiyyah yang menghadiri perdebatan.[1]

B.     Kondisi Sosial, Ekonomi, Dan Politik Pada Masa Nizam Al-Mulk
·         Sosial
Di saat terjadi perpindahan kekuasaan dari Umayyah ke Abbasiyah, wilayah geografis dunia islam membentang dari timur ke barat, meliputi Mesir, Sudan, Syam, Jazirah Arab, Iraq, Parsi sampai ke Cina. Kondisi ini mengantarkan terjadinya interaksi intensif penduduk setiap daerah dengan daerah lainnya. Interaksi ini memungkinkan proses asimilasi budaya dan peradaban setiap daerah. Nyanyian dan musik menjadi tren dan style kehidupan bangsawan dan pemuka istana era Abbasiyah. Anak-anak khalifah diberikan les khusus supaya pintar dan cakap dalam mendendangkan suara mereka. Seniman-seniman terkenal bermunculan pada masa ini diantaranya Ibrahim bin Mahdi, Ibrahim al Mosuly dan anaknya Ishaq. Lingkungan istana berubah dan dipengaruhi nuansa Borjuis mulai dari pakaian, makanan, dan hadirnya pelayan-pelayan wanita. Dalam sebuah riwayat disebutkan Harun ar-Rasyid memiliki seribu pelayan wanita di istananya dengan berbagai keahlian.
Para penguasa Abbasiyah membentuk masyarakat berdasarkan rasa persamaan. Pendekatan terhadap kaum Malawi dilakukan antara lain dengan mengadopsi sistim Administrasi dari tradisi setempat (Persia) mengambil beberapa pegawai dan Menteri dari bangsa Persia dan meletakan ibu kota kerajaannya, Baghdad di wilayah yang dikelilingi oleh bangsa dan agama yang berlainan seperti bangsa Aria dan Sumit dan agama Islam, Kristen, dan Majusi.
Pembagian kelas dalam masyarakat Daulat Abbasiyah tidak lagi berdasarkan ras atau kesukaan, melainkan berdasarkan jabatan seseorang seperti menurut jarzid Zaidan, masyarakat Abbasiyah terbagi dalam 2 kelompok besar, kelas khusus dan kelas umum. Kelas khusus terdiri dari khalifah, keluarga khalifah (Bani Hasyim) para pembesar negara (Menteri, gubernur dan panglima). Kaum bangsawan non Bani Hasyim (Quraisy) pada umumnya. Dan pra petugas khusus, tentara dan pembantu Istana. Sedangkan kelas umum terdiri dari para seniman, ulama, pujangga fukoha, saudagar dan penguasa buruh dan petani.
Sistem Sosial Pada masa ini, sistem sosial adalah sambungan dari masa sebelumnya (Masa Dinasti Umayah). Akan tetapi, pada masa ini terjadi beberapa perubahan yang sangat mencolok, yaitu :
a.       Tampilnya kelompok mawali dalam pemerintahan serta mendapatkan tempat yang sama dalam kedudukan sosial.
b.      Kerajaan Islam Daulah Abbasiyah terdiri dari beberapa bangsa yang berbeda-beda (bangsa Mesir, Syam, Jazirah Arab dll.).
c.       Perkawinan campur yang melahirkan darah campuran.
d.      Terjadinya pertukaran pendapat, sehingga muncul kebudayaan baru .
·         Ekonomi
Nizam al-mulk menjadi perdana menteri selama tiga puluh tahun pada masa Dinasti Saljuq, memiliki pengetahuan tangan pertama semua urusan administrasi terutama yang berhubungan dengan tanah. diskusi-Nya di tanah kebijakan umum pada waktu itu dan reformasi ia menyarankan telah diringkas oleh Hasan dan Nadwi. Hasan catatan bahwa hubungan tanah dijelaskan dalam al-Tusi siyasat Nameh disajikan gambar yang sama sekali
 berbeda dari yang feodalisme Eropa. Menurut al-Tusi, itu adalah penguasa dan bukan pemilik yang memiliki tanah. Hasan tepat mengkritik pandangan ini karena bertentangan dengan prinsip Islam, bahwa itu adalah negara dan bukan kepala negara yang tanah milik. Tusi tampaknya rasionalisasi praktek feodal kuno di Persia, mengenai hak-hak sultan. Dia merekomendasikan penarikan biaya tanah dari tuan tanah jika ia gagal memenuhi kewajibannya. Tuan tanah itu, dalam pandangannya, pemungut cukai saja. Mereka bahkan tidak memiliki hak untuk memperbaiki kuantum pajak, yang merupakan hak penguasa. Dia ingin mengurangi kekuasaan dan hak-hak para pemilik tanah dan membuat semua penguasa kuat.[2]

·         Politik
Pada zaman Nizam Al-Mulk tepatnya pada periode ke-4 masa Bani Abbasiyah ditandai dengan kekuasaan Bani Seljuk. Kehadiran Bani Seljuk ini adalah atas undangan Khalifah untuk melumpuhkan kekuatan Bani Buwaih di Baghdad. Keadaan Khalifah memang membaik, paling tidak karena kewibawaannya dalam bidang agama kembali setelah beberapa lama dikuasai oleh orang - orang Syi’ah. Sebagaimana pada periode sebelumnya, ilmu pengetahuan juga berkembang pada periode ini. Nizam al-Mulk, perdana menteri pada masa Alp Arselan dan Malikhsyah, mendirikan Madrasah Nizamiyah (1067 M) dan madrasah Hanafiyah di Baghdad. Cabang - cabang Madrasah Nizamiyah didirikan hampir di setiap kota di Irak dan Khurasan. Madrasah ini menjadi model bagi perguruan tinggi dikemudian hari. Dari madrasah ini telah lahir banyak cendekiawan dalam berbagai disiplin ilmu. Di antara para cendekiawan Islam yang dilahirkan dan berkembang pada periode ini adalah al-Zamakhsari, penulis dalam bidang Tafsir dan Ushul al-Din (teologi), Al-Qusyairi dalam bidang tafsir, al-Ghazali dalam bidang ilmu kalam dan tasawwuf, dan Umar Khayyam dalam bidang ilmu perbintangan.
Dalam bidang politik, pusat kekuasaan juga tidak terletak di kota Baghdad. Mereka membagi wilayah kekuasaan menjadi beberapa propinsi dengan seorang Gubernur untuk mengepalai masing-masing propinsi tersebut. Pada masa pusat kekuasaan melemah, masing-masing propinsi tersebut memerdekakan diri. Periode kelima (1199-1258 M).

C.    Pemikiran Ekonomi Nizam Al-Mulk
Nizam Al-Mulk menyadari sepenuhnya mengenai 3 arah faktor-faktor kemakmuran, produktivitas dan efisiensi. Mengamankan kesejahteraan dapat meningkatkan lebih besar produktivitas yang diharapkan dan efisiensi. Ia mendemonstrasikan melalui kejadian terkait di bawah ini:
Bahwa pada saat persoalan (affairs) Ray telah mengkhawatirkan Nizam al-Mulk, ia di beritahukan oleh spies bahwa Quthlumus telah meninggalkan Fortress dari Kurd mulai Plundering negeri dan negeri Ray harus di serang, Alp Arslan juga mulai menuju Nishapur dan ia dengan tentaranya mencapai Damghan. Dengan rasa persaudaraan< Alp Arslan mengirimkan sebuah pesan Quthlumus memintanya untuk kembali. Namun Quthlumush memenuhi tidak menaruh perhatian dan mulai melakukan gangguan ke wilayah sekitar Ray. Quutlumush memenuhi lembaga al-Mith dengan air agar kiriman ke Ray tidak sampai. Situasi ini mengkhawatirkan Alp Arslan. Nizam al Mulk berkata kepadanya “ sama sekali jangan khawatir, saya telah merekrut serdadu yang tembakannya tidak pernah mleset dar target. Saya telah mengamankan kesetiaan dari kitab suci Al Qur’an, ulama , dan sufi dari khurasan, kepadanya telah saya perlakukan dengan kasih sayang. Mereka semua datang mendoakan untuk kemenangan Sultan. Tentara anda ini adalah pendukung andayang paling baik”.
Setelah mengatakan ini, ia meletakkan senjata dan memberikan uang kepada bala tentara. Sultan membawa membagikan uang kepada bala tentara. Sultan membawa kudanya ke air dan menyebrangi dengan selamat beserta angkatan daratnya. Quthlumush terbunuh. Ketika Sultan kembali ke Ray pada tahun 456 H/ 1063 M, Admid al-Mulk menyambutnya dengan kehormatan militer penuh. Atas kemenangannya ini Alp Aslan sangat berterima kasih kepada Nizam al-Mulk.[3]
memastikan bahwa kebutuhan pokok masyarakat dipenuhi secukupnya. Negara harus bisa menjamin ketersediaan pasokan yang cukup selama terjadi serangan hama atau gagal panen.
Nizam Al-Mulk menegaskan bahwa persamaan hak dalam kesempatan melakukan kegiatan ekonomi adalah persyaratan awal untuk mencapai persamaan sosial. Upaya ekonomi untuk mencapai tujuan ini mencakup manajemen zakat yang efektif, bangunan pondok dan rumah untuk rakyat miskin, dan tersedianya lapangan kerja bagi rakyat sesuai kapasitas dan imbalannya.
Tentang pajak, Nizam Al-Mulk tidak menyangkal bahwa sistem pajak yang baik menjadi basis keuangan yang sehat. Walaupun demikian, ia percaya bahwa keuangan yang sehat bukanlah segala-galanya untuk menghindari kesulitan nasional. Terkait dengan persoalan pajak tanah, Nizam Al-Mulk merekomendasikan pembatalan dari pembebanan (charge) oleh tuan tanah terhadap petani yang tidak dapat memenuhi kewajibannya membayar pajak. Dalam pandangannya, tuan tanah hanyalah sebatas pengumpul pajak, bahkan mereka tidak mempunyai hak untuk menetapkan jumlah pajak karena hal tersebut merupakan hak mutlak pemerintah. Dalam hal ini, Nizam Al-Mulk ingin mengurangi kekuasaan dan hak mutlak para tuan tanah, dan menjadikan pemerintah menjadi lebih berkuasa.
Madrasah Nidzamiyah yang didirikan oleh Nizam Al Mulk di Bghdad dan madrasah madrasah lainnya  dibawah kekuasaan bani Saljuk sudah mempunyai sistem menejemen yang  cukup baik. Hal tersebut di atas dilatarbelakangi adanya campur tangan Negara dalam masalah pendidikan pada waktu itu, sehingga masalah pendidikan Islam mulai terencana dengan baik dari mulai tujuan, kurikulum, perekrutan tenaga pendidikan sampai pada pendanaan dan sarana prasarana. Seperti yang diungkapkan Abd.Al Madjid al-Futuh’ madrasah Nidzamiyyah merupakan lembaga pendidikan resmi pemerintah terlibat dalam menetapkan tujuan-tujuannya, menggariskan kurikulum, memilih guru dan memeberi dana yang teratur kepada madrasah. Yang menarik dari inovasi pendidikan Nizam Al-Mulk adalah dalam menangani menejemen keuangan madrasah yaitu dengan mengoptimalkan dana wakaf untuk pembiayaan pendidikan. Hal ini dijadikan alternative solusi untuk menciptakan pendidikan masal yang murah bagi rakyat dengan fasilitas yang cukup memadai.
Dengan adanya dana yang memadai, para syaikh (kalau sekarang professor) dan mudarris dapat digaji secara professional atas tugas-tugas pengajaran yang dilakukannya.
Dari uraian di atas maka masalah-masalah menejemen pada pendidikan Nizamiyah sudah cukup tertata dengan baik, artinya bahwa segala sesuatau yang akan dilakukan sudah terencana, baik dalam masalah sarana dan prasarana, tujuan, kurikulum,  perekrutan guru sampai pada masalah pendanaan lembaga madrasah Nidzamiyah.







BAB III
KESIMPULAN
1.      Al-Mulk Lahir di sebuah desa kecil bernama Radkan, dekat Tus , di Persia (Iran modern). Dari 1063, ia menjabat sebagai wazir Saljuk dan tetap dalam posisi sepanjang pemerintahan Alp Arslan (1.063-1.072) dan Malik Shah I (1072-1092). Nizam al-Mulk juga banyak dikenal karena risalah tebal nya di kerajaan berjudul Siyasatnama (Kitab Pemerintahan ). Ia juga menulis sebuah buku berjudul al-Dastur Wuzarā, ditulis untuk anaknya Abolfath Fakhr-ol-Malek.
2.      Kondisi sosial, ekonomi, dan politik pada masa nizam al-mulk
·           Kondisi sosial : Sistem Sosial Pada masa ini, sistem sosial adalah sambungan dari masa sebelumnya (Masa Dinasti Umayah). Akan tetapi, pada masa ini terjadi beberapa perubahan yang sangat mencolok, yaitu :
a.       Tampilnya kelompok mawali dalam pemerintahan serta mendapatkan tempat yang sama dalam kedudukan sosial.
b.      Kerajaan Islam Daulah Abbasiyah terdiri dari beberapa bangsa yang berbeda-beda (bangsa Mesir, Syam, Jazirah Arab dll.).
c.       Perkawinan campur yang melahirkan darah campuran.
d.      Terjadinya pertukaran pendapat, sehingga muncul kebudayaan baru.
·           Kondisi ekonomi : Nizam al-mulk menjadi perdana menteri selama tiga puluh tahun pada masa Dinasti Saljuq, memiliki pengetahuan tangan pertama semua urusan administrasi terutama yang berhubungan dengan tanah. Dia ingin mengurangi kekuasaan dan hak-hak para pemilik tanah dan membuat semua penguasa kuat.
·         Kondisi politik : Dalam bidang politik, pusat kekuasaan juga tidak terletak di kota Baghdad. Mereka membagi wilayah kekuasaan menjadi beberapa propinsi dengan seorang Gubernur untuk mengepalai masing-masing propinsi tersebut. Pada masa pusat kekuasaan melemah, masing-masing propinsi tersebut memerdekakan diri.
3.      Pemikiran Ekonomi Nizam Al-Mulk menyadari sepenuhnya mengenai 3 arah faktor-faktor kemakmuran, produktivitas dan efisiensi. Mengamankan kesejahteraan dapat meningkatkan lebih besar produktivitas yang diharapkan dan efisiensi.



















DAFTAR PUSTAKA
2.       http://syafaulmudawam.blogspot.com/ tanggal12 maret 2013
3.       Prof. Dr. Azyumardi Azra. MA, sejarah pemikiran ekonomi islam, hal 200

Tidak ada komentar:

Posting Komentar